Baru-baru ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana (Unud) menolak rencana kerja sama antara universitas tersebut dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penolakan ini disampaikan dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Rektor Unud, Profesor Dr. dr. A.A Raka Sudewi, Sp.S (K).
Dalam surat tersebut, BEM Unud menyatakan kekhawatirannya terkait dampak dari kerja sama antara Unud dan TNI. Mereka menilai bahwa kerja sama tersebut dapat mengganggu kebebasan akademik dan independensi kampus. Selain itu, BEM Unud juga menyoroti sejarah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh TNI, sehingga mereka merasa tidak nyaman dengan adanya kerja sama tersebut.
Menanggapi penolakan tersebut, Rektor Unud membuka dialog dengan BEM Unud untuk membicarakan lebih lanjut tentang kerja sama Unud-TNI. Rektor menegaskan bahwa kerja sama tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di Unud, bukan untuk mengganggu kebebasan akademik. Rektor juga menegaskan bahwa Unud akan tetap menjaga independensi dan integritas kampus dalam setiap kerja sama yang dilakukan.
Dialog antara Rektor dan BEM Unud diharapkan dapat membuka ruang untuk saling memahami dan mencari solusi terbaik dalam kerja sama Unud-TNI. Hal ini juga menunjukkan pentingnya partisipasi mahasiswa dalam pengambilan keputusan di lingkungan kampus. Dengan adanya dialog ini, diharapkan kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan dan menjaga kepentingan bersama.
Sebagai mahasiswa, penting bagi kita untuk terus mengawal dan mengkritisi setiap kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait, termasuk dalam hal kerja sama antara kampus dan institusi lain. Kita harus senantiasa mengedepankan kepentingan bersama dan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kemajuan pendidikan dan penelitian di kampus kita.